Senin, 12 November 2007

Keledai yang tidak bodoh

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya.

Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.

Sementara tetangga-2 si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri!

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dsb) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita(pikiran, dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan.

Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah! Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkahlah naik !!!

Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :

1. Bebaskan dirimu dari kebencian

2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan

3. Hiduplah sederhana

4. Berilah lebih banyak

5. Berharaplah lebih sedikit

6. Tersenyumlah

7. Miliki teman seperti aku ^_^

Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama.

Kamis, 01 November 2007

Segelas Susu

Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu.

Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya, "berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?" Wanita itu menjawab: "Kamu tidak perlu membayar apapun".

"Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan" kata wanita itu menambahkan.Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :" Dari dalam hatiku aku berterimakasih pada anda."
Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokterdikota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar, dimana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langka tersebut. Dr. Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit, menuju kamar si wanita tersebut. Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandang. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.

Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan... Wanita itu sembuh !!.Dr. Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan. Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien.

Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya. Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut, dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut.

Ia membaca tulisan yang berbunyi."Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu.." tertanda, DR Howard Kelly.
Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa : "Tuhan, terima kasih, bahwa cintamu telahmemenuhi seluruh bumi melalui hati dan tangan manusia."

Senin, 22 Oktober 2007

Bosan Hidup

Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."

Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit." "Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Master."Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" "Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Begitu rileks, begitu santai!

Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran . Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget!

Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu. "Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Sang istripun merasa aneh sekali Selama ini, mungkin aku salah. "Maafkan aku, sayang."

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?”Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.

Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi.

Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian.

Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!!!

Kamis, 18 Oktober 2007

LUKISAN ANDA DIRUSAK?

Suatu hari ada seorang pelukis terkenal sedang menyelesaikan lukisannya. Lukisan ini adalah lukisan yang sangat bagus dan akan diperlihatkan pada suatu pameran besar. Sang pelukis sangat senang ketika menyelesaikan lukisannya. Sambil memandangi lukisannya yang berukuran 2x8m itu, tanpa disadari si pelukis telah berjalan mundur. Dan ketika berjalan mundur pelukis tersebut tidak melihat ke belakang. Dia terus berjalan mundur hingga di belakangnya adalah ujung dari gedung tersebut yang tinggi sekali dan tinggal satu langkah lagi dia akan mengakhiri hidupnya.

Salah seorang melihat pelukis tersebut dan hendak berteriak untuk memperingatkan pelukis tersebut. Tetapi tidak jadi, karena dia berpikir mungkin ketika mendengar teriakannya, pelukis itu akan kaget dan malah jatuh ke belakang. Kemudian orang tersebut mengambil kuas dan cat yang ada di depan lukisan tersebut, lalu mencoret-coret lukisan si pelukis tersebut sampai rusak. Pelukis tersebut sangatlah marah dan maju hendak memukul orang tersebut. Tetapi beberapa orang yang ada di situ menghadang dan memperlihatkan posisi pelukis tadi yang nyaris jatuh.

Kadang-kadang kita telah melukiskan masa depan kita dengan sangat bagus dan memimpikan suatu hari yang indah bersama dengan pasangan yang kita idamkan. Tetapi lukisan itu kelihatannya dirusak oleh Tuhan, karena Tuhan melihat bahaya yang ada pada kita kalau kita melangkah. Kadang-kadang kita marah dan jengkel terhadap Tuhan atau juga terhadap pemimpin kita. Tapi perlu kita ketahui Tuhan selalu menyediakan yang terbaik untuk kita.

Rabu, 17 Oktober 2007

Kasih seorang Ibu

Jalannya sudah ter-titih2, karena usianya sudah lebih dari 70 th, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal dirumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tsb.Ayah dari anak tsb minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Disamping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yg belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yg hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahakannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yg harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkanputrinya, tidak ada seorang pun yg mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yg ia dapatkan hanya cemohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapa.

Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yg didapatkannya dari Tuhan dimana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yg ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love - Kasih. Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan diwaktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam,karena itu merupakan penghasilan tambahan yg ia bisa dapatkan.

Terkadang ia harus menjahit s/d jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yg tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yg tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, disampingitu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yg seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yg tercinta, hanya ygterbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian s/d makanan.

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca diluaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yg telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja.

Sejak saat tsb ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yg terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yg tercinta.

Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Disana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yg bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengakukepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak di undang, bahkan kehadirannya tidaklah di inginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yg tercinta. Sejak saat itu ber-th2 ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu.

Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dgn anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, iamelamar dgn menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Dirumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga tsb. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.

Dirumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinyada daripada dirinya sendiri. Disamping itu sering sekali di bentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yg kecil dibelakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.

Setelah bekerja ber-th2 sebagai babu tanpa ada orang yg mengetahui siapa dirinya dirumah tsb, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yg setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo. Puluhan th ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dgn putri kesayangannya. Uang pension yg ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dgn pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.

Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yg ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Disamping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yg ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.

Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat dibawah nol dan salujupun turun dgn lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena diluaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi kerumah putrinya. Ia ingin betemu dgn putrinya sekali lagi yg terakhir kali. Dgn tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggudatangnya bus ber-jam2 diluaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat dimana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yg jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yg berada dlm keadaan sakit.

Setiba dirumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yg membukakan pintu rumah gedong dimana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yg diucapkan putrinya?Apakah rasa bahagia bertemu kembali dgn ibunya? Tidak! Bahkan ia di tegor:"Kamu sudah bekerja dirumah kami puluhan th sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu dibelakang rumah!"

"Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yg terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena diluaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!" kata wanita tua itu. "Maaf saya tidak ada waktu, disamping itu sebentar lagi kami akanmenerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" ucapan putrinya dgn nada kesal. Setelah itu pintu di tutup dgn keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih belas kesianpun tidak ada.

Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon dirumah putrinya "Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon kekantor polisi, sebab dihalte bus di depan ada seorang nene meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!" Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayangputrinya yg tercinta yg tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.

Ibu saya tidak melek komputer, bahkan beliau seorang wanita yg buta aksara, tetapi untuk mang Ucup pribadi beliau adalah wanita yg paling hebat, dimana s/d detik ini mang Ucup masih bisa belajar dari padanya. Belajar memberikan dan membagikan kasih tanpa pamrih dan tanpa lagas. Ibunya mang Ucupmenderita sakit kanker, tetapi ia tidak pernah mengeluh. Tiap kali saya menelpon Ibu, pertanyaan standard selalu diajukan kepada saya: "Apa yg Ibu bisa bantu untukmu nak?" Ia tidak memohon untuk dirinya sendiri dlm doanya, yg ia utamakan selalu hanyalah kami anak2nya! Ia selalu mendoakan kami siang dan malam.

Maka dari itulah untuk mang Ucup, Ibu saya adalah wanita yg tercantik sejagat raya, melebihi daripada Michael Preifer walaupun ia barusan saja terpilih oleh majalah People sebagai wanita tercantik sedunia untuk th 1999. Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dgn penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga.

Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak2nya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun.

Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari2 tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja " sedangkan di hari2 lainnya tidak pernah mengingatnya, boro2 memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu. Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah.

Renungkanlah:Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu?Kapan kita terakhir mengundang Ibu?Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan2?Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dgn ucapan terima kasih kepada Ibu kita?Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

When Mother prayed, she found sweet rest,When Mother prayed, her soul was blest;Her heart and mind on Allah were stayed,And God was there when Mother prayed!

Our thanks, O God, for mothersWho show, by word and deed,Commitment to Thy will and planAnd Thy commandments heed.

A thousand men may build a city,but it takes a mother to make a home.

Senin, 08 Oktober 2007

Rahasia si Untung

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek.

Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial.

Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi "berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini". Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: "berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!" Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya "scientific" ini,

Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.

Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?

Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permatanya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: "Mr. Buffet!" Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permatanya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan. Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika.

Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan "hati nurani" (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari "gut feeling".

Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, "mendengarkan intuisi" itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu?

Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan. Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:

- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. "Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali", semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.

- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.

Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain.

Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.

Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: "wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu". Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: "untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit". Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan. Sekolah Keberuntungan. Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School . Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat "Luck Diary", buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip "law of attraction", semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung. Termasuk kita.

Siap mulai menjadi si Untung? :p-- "Happiness is a journey, not a destination..."

Jumat, 05 Oktober 2007

DOA YANG INDAH

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku.
Tuhan menjawab, Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan,tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyempurnakan kecacatanku.
Tuhan menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkanku kesabaran.
Tuhan menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab, Tidak. Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan penderitaan.
Tuhan menjawab, Tidak. Penderitaan mejauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan rohku.
Tuhan menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Tuhan segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Tuhan menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab.. Ahhh, akhirnya kau mengerti.

HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN
Tuhan Memberkatimu.
Bagi dunia kau mungkin hanyalah seseorang, Tetapi bagi seseorang kau mungkin dunianya.

GOD BLESS U ALL !!

Kamis, 04 Oktober 2007

Slow Down Culture

It's been 18 years since I joined Volvo, a Swedish company.Working for them has proven to be an interesting experience. Any project here takes 2 years to be finalized, even if the idea is simple and brilliant. It's a rule.
Globalize processes have caused in us (all over the world) a general sense of searching for immediate results. Therefore, we have come to posses a need to see immediate results.
This contrasts greatly with the slow movements of the Swedish. They, on the other hand, debate, debate, debate, hold x quantity of meetings and work with a slowdown scheme. At the end, this always yields better results.
Said in another words: 1. Sweden is about the size of San Pablo , a state in Brazil . 2. Sweden has 2 million inhabitants. 3. Stockholm , has 500,000 people. 4. Volvo, Escania, Ericsson, Electrolux, Ikea are some of its renowned companies. Volvo supplies the NASA.
The first time I was in Sweden , one of my colleagues picked me up at the hotel every morning. It was September, bit cold and snowy. We would arrive early at the company and he would park far away from the entrance (2000employees drive their car to work). The first day, I didn't say anything, either the second or third. One morning I asked, "Do you have a fixed parking space? I've noticed we park far from the entrance even when thereare no other cars in the lot." To which he replied, "Since we're here early we'll have time to walk, and whoever gets in late will be late and need a place closer to the door. Don't you think? Imagine my face.
Nowadays, there's a movement in Europe name Slow Food. This movementestablishes that people should eat and drink slowly, with enough time to taste their food, spend time with the family, friends, without rushing. Slow Food is against its counterpart: the spirit of FastFood and what it stands for as a lifestyle. Slow Food is the basis for a bigger movement called Slow Europe, as mentioned by Business Week.
Basically, the movement questions the sense of "hurry" and "craziness"generated by globalization, fueled by the desire of "having in quantity" (life status) versus "having with quality", "life quality" or the "quality of being".
French people, even though they work 35 hours per week, are more productive than Americans or British. Germans have established 28.8 hour workweeks and have seen their productivity been driven up by 20%. This slow attitude has brought forth the US 's attention, pupils of the fast and the "do it now!".
This no-rush attitude doesn't represent doing less or having a lower productivity. It means working and doing things with greater quality, productivity, perfection, with attention to detail and less stress. It means reestablishing familyvalues, friends, free and leisure time. Taking the "now", present and concrete, versus the "global", undefined andanonymous. It means taking humans' essential values, the simplicity of living.
It stands for a less coercive work environment, more happy, lighter and more productive where humans enjoy doing what they know best how to do. It's time to stop and think on how companies need to develop serious quality withno-rush that will increase productivity and the quality of products and services, without losing the essence of spirit.
In the movie, Scent of a Woman, there's a scene where Al Pacino asks a girl to dance and she replies, "I can't, my boyfriend will be here any minute now". To which Al responds, "A life is lived in an instant". Then they dance to a tango.
Many of us live our lives running behind time, but we only reach it when we die of a heart attack or in a car accident rushing to be on time. Others are so anxious of living the future that they forget to live the present, which is the only time that truly exists. We all have equal time throughout the world.
No one has more or less. The difference lies in how each one of us does with our time. We need to live each moment. As John Lennon said, "Life is what happens to you while you're busy making other plans".

Source : From email to email

Senin, 01 Oktober 2007

WE CAN DO GREAT THINGS WITH SMALL THINGS AND GREAT LOVE

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat satu topik:

'Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/alami. Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah, bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? '

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut: Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku,"Apakah kau pikir mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, di luar kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan sekarang sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak kesembilan nanti'

Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu. Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan mereka? Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay. Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar, apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput. Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah ke depan, dan melempar bola itu perlahan ke arah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun ke arah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan kembali ke arah pitcher. Permainan seharusnya berakhir saat itu juga, pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama, Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.

Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya, dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari menuju base ketiga.

Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu Shay"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan bak seorang
hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta yang tulus dan nilai kemanusiaan ke dalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim dngin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen di mana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung di antara mereka.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk dapat memahami "kejadian alami dalam hidup". Begitu banyak hubungan antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2 pertanyaan bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau apakah kita telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

Source : dari email ke email

Senin, 10 September 2007

Awaken Your Potential!

By: Diana Long M.S.ACC

Wake up call! You've probably heard the statistic that says we humans on average only access approximately 10% of our brain's potential. And that is on a good day! It makes one wonder what the "sleeping" 90% portion of our brain's potential could be. It's really a staggering concept. What might you envision for yourself if you were virtually unlimited? What would life be like for you if you tapped into your huge reservoir of your own potential? Wow!

Here is a 3 point process to access more of your own vast potential. First begin visioning each and every day. If you aren't clear on what you want, you aren't going to get there. Visioning is an activity that lets you bypass your "issues" and go straight to possibility. Your dynamic, crystal clear Vision will pull you forward to the success you desire.

Second, design and place yourself into dynamic environments that both support and pull you forward. Your environment can make, break or keep you static. Choose wisely. Environments that challenge and stretch you are vital to your own growth and success. Human beings are more fully engaged and successful when they consistently set goals that are slightly out of reach. What about you? Are you growing or stagnant? In what ways will you stretch yourself this month? Will you: Assume a leadership position? Enroll in the MBA program you've talked about for years? Finally upgrade your technical skills? Go for it!

Third, identify and emulate role models who are wildly successful. Recently, while in my power yoga class, I attempted to execute a difficult posture. (It wasn't pretty.) I glanced up and saw a woman in the row ahead of me elegantly and powerfully assume the posture in a way that absolutely defied logic! I never dreamed the human body could actually do what I saw this "yogi" do. Seeing her do this amazing feat instantly helped me to reframe what is indeed possible. Had I not seen what was possible, I might have continued with a very limited, narrow perspective on what my own body is capable of. My challenge to you this month is seek out those who are 10 steps ahead of you. Observe and learn from them. Perhaps it is time for you to enlist a mentor or coach? As Ralph Waldo Emerson so aptly said, "What lies behind us or ahead of us are small matters compared to what lies within us!" Awaken your potential and step into your greatness.

"What lies before us and what lies ahead of us are small matters compared to what lies within us." Ralph Waldo Emerson

About the Author:Success Coach Diana Long, is the President of the Life Design Institute. Learn more about Diana and receive your Free Report," How to Avoid the 3 Biggest Mistakes that Women Make to Sabotage their Success" and Free subscription to "Life Design Secrets" e-newsletter, please visit http://www.DianaLong.com

Read more articles by: Diana Long M.S.ACC

Article Source: www.iSnare.com

Kamis, 16 Agustus 2007

The Joy of Making a Dream Come True

By: Tania Baildon

I’ve talked a lot over the years of making your dreams, your heart’s passions, come true in your life in one form or another. You might not make it on Broadway, but you can always act in your local theatre. I’m not a famous singer with thousands of adoring fans, but I did sing the National Anthem in front of 2500 people at our local AA Baseball game.

Sometimes touching a dream is all we can do, and the very act of reaching for it stretches us and helps us grow. Every time we reach for a dream we get a little farther along our path.

Sometimes we know the outcome before it happens. I was pretty sure when I tried out for the Anthem that I would get called. Sometimes we don’t know. We have a great idea and we know it is worth pursuing. We put our hearts and souls into it because it is the right thing to do, whatever the outcome may be. We leap and trust that the net will appear before we hit the ground.

There has been much controversy over the last year or so about the movie and book “The Secret” and The Law of Attraction. Some believe that if you hold an idea firmly enough in your mind it will manifest in real life. Others claim that is a dangerous notion, because you have to work before anything can happen. Just believing isn’t enough.

I agree. With both, actually. If you want something badly enough, you will take steps toward it. If you want it but can’t see it, can’t visualize it, you will have a much harder time manifesting it because you are not clear on what you want. If you don’t believe you can do it or that you deserve it, you will fight yourself every time you get close.

When you can see it and believe in it, you will want to act on it. It is those three things working together- Vision, Belief, and Action that will bring you the things you want. Affirmations, self hypnosis, prayer, scrap books and collages of our desires, all of these help us focus our attention on our dreams, and it is that focused attention that will take us closer to them.

Two years ago this Fall we quit our jobs driving truck and began following our own dreams. Mine was to join Jim Rohn, Brian Tracy, Zig Ziglar, Robert Allen, Marshall Sylver, and the other mentors and coaches of the world in helping people reach their dreams. I wanted to be on stage, making a difference in many people’s lives. I love to travel, to speak, to share, to teach. I also saw a serious lack of women up there on stage, and thought I could give a slightly different perspective to the world.

So I took classes, went to seminars, joined Toastmasters. I went through Coaching training. I took Alex Mandossian’s Teleseminar Secrets. I joined Robert Allen’s Enlightened Wealth Institute. I learned, I studied, I defined my dreams more clearly. I watched the gurus closely- what I liked, what I admired, what I didn’t. Which traits I wanted for my own, which ones I did not.

I loved the idea of Harris and Merlin’s 12 Week Intensive. You find 12 experts in a field you are interested in. (Actually, you find and contact about 60 and get 12 of them to say yes.) Then you interview them, one each week, on a teleseminar that you broadcast for free. Each one gets to give an hour or so of great information, and promote a product or program of theirs that will teach people even more. You are an affiliate of the sales from the call. Harris and Merlin made about $130,000 from the first 12 Week Intensive they did, and became well known in the process.

That became one of my dreams. Find experts I admire, ask them for interviews, get to know them, interview them, and help them help others.

This month I have started realizing that dream. The first of July I became part of Mark Joyner’s 7 Day Business Turnaround. I have provided a Simpleology link below. The information is great, the training even better, and I got to meet some of the Space Monkeys.

What in the world is a Space Monkey? Well, before we sent humans out to face the void of outer space, we sent up a dog, and then a chimp, to see how rocket travel would affect living creatures. So when Mark created his 7 Day Business Turnaround, he decided to run a select group of people through the program first, just to see what would happen, and he called them his Space Monkeys.

Some of them were already successful business owners and/or internet marketing gurus, like Tellman Knutson. Some were a small presence on the net, like Kristi Sayles, a 2nd grade teacher who made an extra $400-$500 per month in internet marketing. There were brick and mortar businesses, and total newbies. There was even Mike Hudson, a very successful man who wrote much of the copy you see in the guru’s campaigns, who had never created his own product in all these years.

It was an experiment in marketing, in creativity, and in bringing together people from entirely different backgrounds and seeing what they could do in 7 days with intensive training and access to each other. And what they could do was amazing.

I joined the & Day Business Turnaround on it’s launch to the public. I am very impressed with it, and recommend it wholeheartedly. He teaches about cutting costs, stopping the time bleeding, how to do quick “Cash Injection” missions, and how to think long term once you have the present under control. The forums are one of the best parts, because you never know who you might run into.

I ran into the Space Monkeys, and I remembered my dream of interviewing experts. Here they were, 16 Space Monkeys, and I have a way to contact them (or at least some of them.) I have something in common with them, and several are still active on the forum. So…

I invented the Wealth Virus. The WHAT? The Wealth Virus. It is something the Space Monkeys caught when Mark used them for guinea pigs, and it has been spreading ever since. Every project they work on, all the people they come into contact with, seem to catch the Wealth Virus. Really.

Why did I invent the Wealth Virus? Because it gave me a chance to debrief the Space Monkeys. It gave me a story line to play with, a reason to do the interviews, and a fun thing to talk about, not to mention a great URL. Check it out at the end of this article.

So I set up the website and started contacting Space Monkeys. I only had 16. Could I get enough to make a decent teleseminar series? Well, so far I have 7 Space Monkeys and Mark Joyner himself who have said “Yes” to being interviewed. And a dream seed planed almost 2 years ago is growing into the most beautiful reality I can imagine.

Sometimes in the last month I have felt a little overwhelmed with all I am doing, yet overall I am happier than I have been in a long while. Following your dreams and finally catching up to them is a mind blowing, life altering experience, and I recommend it to everyone. :)

I have often said “Follow your dream.” Now I realize that you don’t just follow a dream. You dream it, you lead it, you follow it, you coax it, you sometimes yell at it for not being what you thought it should be. You let it sleep for a while, then you wake it up and try again. You allow it to grow, you shape it, you trim it, you expand and contract it. You live with it, and it lives in you. Most of all, you work for it, and you never, ever give up on it. And it never gives up on you.

The Space Monkey interviews will start in late August. Be sure to register for your Top Secret Clearance ID at WealthVirus.com.

Become part of my dream with me. Share it with your friends. Watch it grow before your eyes.

Then ask yourself - What is your dream? What can you do today to reach toward that shining star? To bring it out, dust it off, and remember how its glow reminds you who you truly are?

Dreams are for those who stretch themselves in the reaching. “Ah, but a man's reach should exceed his grasp, Or what's a heaven for?"

What dream is worth stretching yourself for today?
Tania Baildon is a Life and Business Coach, Speaker, and Teleseminar Leader. Her coaching specialties are life changes and growth, and small business creation and promotion. One of the most important things Tania brings to her coaching is the ability to break people out of their own thinking habits and brainstorm new possibilities. Coaching: http://www.extraordinary101.com Tania also does professional teleseminar interviews and teaches tele-classes. Her curent project is interviewing Mark Joyner’s Space Monkeys to find out how they caught the elusive Wealth Virus. www.wealthvirus.com
For more self- discovery, get Tania’s 8 week Ten Percent More Ecourse ($67 Value) Free at http://www.tenpercentmore.com/Ecourseform.html

Article Source : http://www.impactarticles.com/

Senin, 13 Agustus 2007

Balance Your Life and Thrive

Written by BraveHeart Woman
Sunday, 12 August 2007

Finding balance in our lives can be difficult especially if we think our life is already in balance.

* Do you get out of bed running and before you know it it's time to have lunch but you don't remember eating breakfast?
* At the end of the day are you absolutely run down but you notice that nothing on your "to do" list got done?
* Do you spend most of your day running around putting out "fires", feeling frustrated and stressed? Guess what? Your life is out of balance.

The list goes on and on but I won't. Truth is truth no matter what your opinion may be. Do you know anyone who is managing a large family? Have you ever thought to yourself, "How does she do it?" Perhaps the one you're thinking of doesn't do it all that well -- her life is out of balance. Think about it. Do you know anyone who seems to have a "full plate" -- much more to do than you have -- who seems to be thriving and growing? Does she volunteer to do more? Do you find yourself thinking, "Better her than me"? Would you like to know how she does it?

I'll share with you how she does it. I'll share with you how I do it. I have 8 kids. I home-school those of school age. I am currently working on my doctorate and am maintaining an "A" average. I teach childbirth classes from my home. I volunteer in my community and am available to mothers 24/7. I am building my own business. I am active in my church. There's a lot on my plate. I begin my day by making my "to do" list the night before after the kids are in bed. I sit listening to the silence with a pen and paper handy. I write down whatever comes to my mind. I sit listening to the silence until nothing else comes. It usually takes about 30 minutes, sometimes longer. I then take that list and I mark the six most important ones. The ones that MUST get done, no matter what. I then put everything into categories. All "like" items into the same listing -- phone calls, housework, etc. Now I can sleep because I've put it all down on paper. It's no longer in my head keeping me awake. I attempt to rise early.

Notice I said "attempt". I have a nursling and he sometimes wants to nurse when I want to get up so I will do that first. Sometimes the result is me falling back to sleep but that's okay because I've already made my list. Once he's back to sleep, I rise and sit in the silence. Remember, I have 8 kids. Silence is scarce so I use that time wisely. I ponder on my day, I read something inspirational, I do some form of exercise or stretching, I shower, dress and get my hair and make-up done. I eat breakfast. That's right -- I EAT BREAKFAST. I'm not talking about a granola or breakfast bar. I'm talking about breakfast. Make it a big one -- your body will thank you in the form of energy. You know what else happens when you feed your body a lot of healthy food first thing in the morning? Your emotional state improves. How does that happen? You've just given your body what it needs to balance.

I've started my day out the right way - the balanced way. I've fed my body spiritually (listening to the silence and pondering - aka meditation), mentally (reading something inspirational), physically (eating a good breakfast), and emotionally (starting the day slowly with intention and purpose). Does this ensure the day will run flawlessly? No. What it does mean is that I am balanced and ready to accept whatever gets thrown my way. The top six things on my list WILL GET DONE. They may be the only things that get done but that's okay. The kids will get loved on and taught what they need to know. My husband will be okay if he comes into an unkept house because he knows by the happy kids that I've been working hard all day. I am feeling balanced. Complete. Whole. Peace is in the center of my day. I can and will do the things that are necessary. The day will finish and I will sit in the silence and make my list.

The cycle continues. Businesswoman, Friend, and Team player Angie Taylor assists Women to be success stories and inspiration to others. The fact that you are investigating the home-based business industry is a sign that you have dreams and trust in those dreams.

Let me assist you: go to my website and register for the FREE newsletter and receive a copy of the FR.EE "Building Business Report".Visit: Be a BraveHeart Woman

Article Source: http://www.articleblast.com/

Sabtu, 11 Agustus 2007

Don't Waste Your Time - Use it Wisely

by: Andrew Grant


Do you waste time? Are you lazy and indolent or are you continuously on the go, using every minute to the maximum?

If you are in the first category, there are a lot of very obvious things you can do to improve, but in this article I want to concentrate on those of us who are already using our time constructively and examine how you can squeeze even more from your day.

You may think that your life is so full that this is impossible, but I recently ran an inventory of how I used my time and realised that there was still some room for improvement. Here's what I discovered.

Timespace #1 – For years I avoided doing any kind of exercise. It was pretty easy for me, I had been skinny all my life and even though I wasn't too fit, I was still the right weight. As I got older, though I realised that I had to take my body a bit more seriously.

Since then I have become a moderate, regular exerciser; I now go running for half an hour every second day and visit the gym three times a week. No problem there; I get satisfaction from using my time well and I appreciate the results.

However, I calculated that I am spending about five hours per week doing great things for my body, but nothing for my mind. So now when I'm pounding the streets or straining at the weights, I use the opportunity to listen to self development programs on my I-Pod, to concentrate on goal visualization, to practice affirmations or just focus on being grateful for all the good things in my life. And there's a bonus too; because the blood is racing through my veins, my brain is more alert and better prepared to learn and grow.

Timespace #2 – I drive a lot. My business requires a good deal of travel and most of it is done in the car. I used to listen to music on the radio or go into an almost trance-like ‘auto pilot' mode, usually to escape the tedium of long distance driving.

Now, though, I put a self development CD in the player, or a language course, or again, I use the time to practice visualizations and affirmations. The privacy of your little tin box allows you to shout, sing, laugh or mumble. Who cares? You are on your own. It's your space.

Timespace #3 – Finally, this one is not so much about finding extra time as making better use of the time I thought I was using wisely. My personal time audit showed me that I was wasting a whole hour, sometimes more, at the beginning of the day catching up on the overnight e-mail load and then planning what I was going to do for the rest of the day.

I prided myself on being an efficient time warrior, but I now realise, that I was missing one of the biggest mistakes of all.

So how did I fix that? Simple. I changed two things. Firstly, I now do my planning, the night before, by taking ten minutes, near to the end of the evening and writing down everything I want to achieve the next day. The bonus here is that overnight, my mind works on the issues even while I sleep, so by the time I get started next day, I am far better prepared.

Secondly, I leave my e-mail inbox until lunchtime. I spend the morning getting through the goals I assigned the night before and then just before I take a break for lunch, I race through my inbox. That way, I find I already feel good about what I've done so far in the day, my mind is much more focused and I don't get distracted.

So no matter how efficient you think you are, take a look again at your day and I'll bet you can find some extra layers of time, you never knew you had. Good hunting.


About The Author

Hi my name is Andrew Grant, I'd like to invite you to visit my website and subscribe to my newsletter for more information and inspiration on Goal Setting, Positive Thinking and Internet Marketing.

http://www.money-and-mind.com/

Article Source : www.articlecity.com

Jumat, 10 Agustus 2007

First Idea of This Blog

I like to collect self motivation story from internet and now I like to share them on my blog. Motivation keeps us sharp everyday. Motivation drives us to our goal. Motivation makes us concentrate on our goal. Motivation makes us arise when we are down. That is why motivation is good for our lives. I hope you can take benefit from the blog I created.